Jika kamu nongkrong di kopitiam atau berjalan melewati ruko-ruko tua di Medan, Jakarta, atau Surabaya, kamu pasti akan mendengar tiga kata ini diulang-ulang: Cuan, Cengli, dan Cincai.
Saat ini, kata Cuan sudah masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan dipakai oleh semua orang—mulai dari Gen Z yang main crypto sampai abang ojek online. Tapi, di balik kepopuleran kata ini, ada sebuah filosofi bisnis kuno yang tak bisa dipisahkan dari dua “saudara”-nya: Cengli dan Cincai.
Mari kita bedah “Holy Trinity” dari bisnis Tionghoa-Indonesia ini.
Cuan (賺 - Choán): Tujuan Utama
Cuan secara harfiah berarti keuntungan atau menghasilkan uang. Dalam mentalitas perantau Tionghoa yang datang ke Nusantara dengan tangan kosong, cuan adalah alasan mereka bangun pagi dan tidur larut malam.
Namun, cuan bukanlah sekadar keserakahan. Ini adalah tentang kelangsungan hidup dan memastikan anak cucu bisa makan dan bersekolah.
Cengli (情理 - Chêng-lí): Aturan Main
Banyak orang berpikir bisnis itu kejam, tapi orang Hokkien tahu bahwa bisnis tanpa Cengli tidak akan bertahan lama.
Cengli berasal dari dua karakter: 情 (Emosi/Perasaan) dan 理 (Logika/Keadilan). Artinya? Adil, masuk akal, dan bermain sesuai aturan main. Jika kamu patungan modal dengan teman 50-50, lalu keuntungannya dibagi 50-50 tanpa ada yang ditutupi, itu namanya Cengli. Jika kamu meminjam uang dan pura-pura lupa saat ditagih, kamu akan dicap Bo Cengli (Tidak tahu aturan / Tidak adil).
Cuan yang besar tidak ada artinya jika didapatkan dengan cara yang Bo Cengli. Namamu di pasar akan hancur.
Cincai (凊彩 - Chhìn-chhái): Pelumas Hubungan
Ini adalah kata favorit semua orang. Cincai berarti terserah, tidak perhitungan, atau gampang saja.
Dalam bisnis, Cincai adalah pelumas yang membuat segalanya lancar. Misalnya, jika seorang pelanggan setia membeli barang seharga Rp 102.000, si penjual yang Cincai akan berkata: “Udah, bayar cepek (Rp 100.000) aja, cincai lah!”
Diskon dua ribu rupiah itu mungkin kecil, tapi sikap Cincai tersebut menciptakan Kam Ceng (hubungan emosional) yang membuat pelanggan itu kembali lagi bertahun-tahun.
Kesimpulan
Tiga kata ini bukan sekadar bahasa jalanan. Mereka adalah keseimbangan: Carilah Cuan sebanyak-banyaknya, pastikan pembagiannya Cengli, dan bersikaplah Cincai pada hal-hal kecil agar hubungan tetap terjaga.