Cheat Sheet Tata Bahasa

Pola Kalimat Hokkien

Bahasa Hokkien Nusantara bukanlah bahasa Indonesia yang diacak. Ia memiliki rumus tata bahasa kuno yang unik, bercampur dengan kosakata lokal. Pahami rumusnya di sini.

Aturan Kepemilikan 'Punya'

Orang Medan menggunakan struktur terbalik khas Hokkien, tapi mengganti partikel 'ê' (的) dengan kata bahasa Indonesia 'punya'.

Rumus

[Subjek] + punya + [Kata Benda]

"Wa punya mobil."

(Mobilku / My car)

"Mobil wa."

(Salah struktur Hokkien)

Akhiran '-Kin' (Sedang / -ing)

Berbeda dengan Hokkien Taiwan yang pakai 'Teh' di awal, kita meminjam tata bahasa Kanton (緊 - gan) dan menaruh 'Kin' di akhir kata kerja.

Rumus

[Kata Kerja] + kin

"Wa ciak kin."

(Aku lagi makan / I am eating)

"Wa teh ciak."

(Hokkien Taiwan / Amoy murni)

Rumus Tanya 'Liao Boi?'

Ini adalah asal mula kenapa orang Indonesia suka bertanya 'Udah [x] belum?'. Kita menggabungkan Sudah (Liao) dan Belum (Boi).

Rumus

[Kata Kerja] + liao boi?

"Lu ciak liao boi?"

(Kamu udah makan belum?)

"Apakah kamu sudah makan?"

(Terlalu baku / formal)

Tiga Jenis Kata 'Tidak'

Hokkien sangat spesifik dalam menolak sesuatu. Jangan gunakan satu kata untuk semua kondisi!

Rumus

Bo (Tidak) | Em (Bukan) | Mai (Tidak Mau)

"Wa bo ciak (Tidak). Wa mai ciak! (Gak mau!)."

(Gunakan sesuai konteks)

"Wa em ciak."

(Kaku / jarang dipakai untuk menolak makanan)

Catatan Ahli Bahasa: Beberapa rumus di atas (seperti Punya dan Kin) secara teknis menyalahi tata bahasa Hokkien asli dari Tiongkok/Taiwan. Namun, kita mendokumentasikan bagaimana bahasa tersebut benar-benar diucapkan oleh masyarakat Indonesia saat ini.