Coba tanyakan ke temanmu yang orang Medan, bagaimana cara bilang “cocok” atau “pas” dalam bahasa Hokkien? Sembilan dari sepuluh orang pasti akan langsung menjawab: “Ngam!” (Atau terkadang diucapkan “Gam”).
Kata ini sangat sering dipakai dalam percakapan sehari-hari. Mulai dari urusan belanja baju sampai urusan percintaan:
- “Baju ini ane ngam sama lu!” (Baju ini pas/cocok sekali denganmu!)
- “Wa kah i bo ngam la.” (Aku sama dia nggak cocok / nggak nyambung lah.)
Tapi tahukah kamu plot twist terbesarnya? “Ngam” sebenarnya BUKAN bahasa Hokkien!
Penyamaran Sempurna Bahasa Kanton
Kata Ngam sebenarnya adalah murni kata serapan dari bahasa Kanton (Cantonese). Karakter aslinya ditulis sebagai 啱 (Ngaam).
Dalam bahasa Kanton standar, Ngaam berarti “benar”, “cocok”, atau “pas”.
Lalu, bagaimana kata Kanton bisa merajai percakapan Hokkien di Medan? Sama seperti kasus akhiran “-Kin” (Wa ciak kin), komunitas Tionghoa di Asia Tenggara (terutama di Malaya dan Sumatera) hidup saling berdampingan. Orang Hokkien, Kanton, dan Hakka sering berbisnis dan nongkrong di kopitiam yang sama.
Karena kata Ngam ini sangat singkat, padat, dan enak diucapkan, orang-orang Hokkien di Medan, Penang, dan Malaysia akhirnya “menculik” kata ini dan menjadikannya bahasa sehari-hari mereka. Kata aslinya dalam Hokkien (seperti Ha̍h / 合) justru perlahan mulai jarang dipakai oleh anak muda untuk konteks “cocok”.
Kenapa Sebagian Orang Bilang “Gam”?
Di Medan, bahasa lisan tidak punya aturan ejaan resmi. Semuanya berdasarkan apa yang didengar oleh telinga.
Suara “Ng” di awal kata (seperti pada Ngam) kadang terdengar sedikit berat bagi sebagian lidah, terutama bagi mereka yang sudah sangat terbiasa dengan fonetik bahasa Indonesia. Akhirnya, banyak orang yang menyederhanakan pelafalannya dengan menghilangkan huruf “N”, sehingga terdengar menjadi “Gam”.
Jadi, kalau ada yang berdebat apakah yang benar itu Ngam atau Gam? Jawabannya: Dua-duanya benar secara slang Medan, tapi secara etimologi Kanton, yang benar adalah Ngam.
Bahasa Hokkien Medan adalah bukti nyata dari Bhinneka Tunggal Ika versi Tionghoa. Meminjam tata bahasa Kanton, memakai kosakata Hokkien kuno, dan membungkusnya dengan logat Indonesia.
Jadi, besok-besok kalau kamu memakai baju baru dan temanmu bilang “Wah, ane gam lo!”, kamu bisa tersenyum dan membalas: “Kamsia, tapi ngomong-ngomong, lu kok bisa bahasa Kanton sih?!”