Kalau kamu menyusuri jalanan di kota Medan, cepat atau lambat kamu pasti akan berpapasan dengan becak.
Transportasi roda tiga ini terasa sangat Nusantara dan lekat dengan budaya jalanan kita. Tapi, tahukah kamu bahwa nama kendaraan ini sebenarnya menyimpan rahasia linguistik yang luar biasa? Kata “Becak” diimpor langsung dari bahasa Hokkien, lho!

Becak dayung tradisional di persimpangan Jalan M. H. Thamrin Medan.
Ironi Sang “Kereta Kuda”
Kata becak sebenarnya adalah adaptasi fonetik dari kata Hokkien Be-chhia (馬車).
Mari kita bedah karakter aslinya:
- Be (馬): Kuda
- Chhia (車): Kereta, gerobak, atau kendaraan bermeroda
Secara harfiah, Be-chhia berarti “Kereta Kuda”. Di sinilah letak ironi sejarahnya: Becak tradisional yang kita kenal digerakkan sepenuhnya oleh keringat dan kayuhan kaki manusia—sama sekali tidak ada tenaga kuda yang terlibat!
Lalu, bagaimana kata ini bisa berubah bentuk? Ketika angkutan roda tiga (sepeda kargo modifikasi) mulai masuk ke Nusantara di awal abad ke-20, komunitas pedagang Tionghoa setempat menggunakan istilah yang sudah familiar di lidah mereka untuk menyebut kendaraan sewaan: Be-chhia.
Seiring berjalannya waktu, lidah penduduk lokal menyederhanakan pelafalannya. Suaranya digabung, dan aturan pelafalan khas Indonesia terjadi: masyarakat lokal menambahkan akhiran huruf sentak “K” di belakangnya. Hal ini sama dengan bagaimana orang Medan mengubah kata Chia̍h menjadi Ciak (makan), atau Tio̍h menjadi Tiok (benar).
Maka, dari Be-chhia, lahirlah kata nasional kebanggaan kita: Becak.
Upgrade Modern: Kuda Bermesin
Kalau “kereta kuda” yang dikayuh manusia belum cukup ironis, era modern membawa hardware upgrade besar-besaran ke jalanan Sumatera Utara: Becak Mesin (atau akrab disingkat Betor).

Dengan menyambungkan sepeda motor ke sespan (sidecar) penumpang, kendaraan ini berevolusi sekali lagi. Tapi, nama becak sudah terlalu mendarah daging dalam kosakata lokal sehingga masyarakat enggan mengubahnya.
Secara linguistik, frasa “Becak Mesin” adalah sebuah mashup yang sangat epik. Mesin mewakili teknologi modern, sedangkan Becak (be-chia) adalah warisan bahasa kuno.
Jadi, saat kamu mencegat Becak Mesin di simpang jalan Kota Medan, secara harfiah kamu sedang menyewa sebuah “Kereta Kuda Bermesin”!
Ini membuktikan betapa uniknya perjalanan sebuah bahasa. Sebuah kata kuno dari Tiongkok berlayar ke Nusantara, beradaptasi dengan gerobak roda tiga, bertahan melintasi zaman, hingga akhirnya dipasangi mesin motor. Sejarah rupanya tidak hanya tersimpan di dalam museum, tapi juga bersembunyi dengan gagah di jalanan yang kita lewati setiap hari!