Kembali ke Artikel
28 Maret 2026 Ken Tandrian 3 mnt baca

Dari Kuda ke Pedal: Rahasia Bahasa Hokkien di Balik Kata 'Becak'

Etimologi Sejarah Medan

Kalau kamu menyusuri jalanan di kota Medan, cepat atau lambat kamu pasti akan berpapasan dengan becak.

Transportasi roda tiga ini terasa sangat Nusantara dan lekat dengan budaya jalanan kita. Tapi, tahukah kamu bahwa nama kendaraan ini sebenarnya menyimpan rahasia linguistik yang luar biasa? Kata “Becak” diimpor langsung dari bahasa Hokkien, lho!

Becak kayuh tradisional di jalanan Indonesia

Becak dayung tradisional di persimpangan Jalan M. H. Thamrin Medan.

Jejak “Kuda” yang Menghilang

Kata becak sebenarnya adalah adaptasi fonetik dari kata Hokkien Be-chhia (馬車).

Mari kita bedah karakter aslinya:

  • Be (馬): Kuda
  • Chhia (車): Kereta, gerobak, atau kendaraan bermeroda

Secara harfiah, Be-chhia berarti “Kereta Kuda”.

Pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1900-an), jalanan kota Medan yang saat itu sedang berjaya sebagai pusat perkebunan tembakau Deli, belum dipenuhi oleh kendaraan bermotor apalagi angkutan roda tiga. Transportasi umum utama pada masa itu adalah kereta kuda seperti sado atau bendi.

Bagi komunitas pedagang Tionghoa-Hokkien yang memegang peranan penting dalam perekonomian kota saat itu, mereka menyebut kendaraan sewaan beroda ini dengan istilah yang lugas: Be-chhia.

Kereta kuda di Jalan Pulau Pinang Medan, sekitar tahun 1929

Kereta kuda di Jalan Pulau Pinang Medan, sekitar tahun 1929.

Transisi dari Tapal Kuda ke Pedal Sepeda

Lalu, bagaimana peran kuda bisa tergantikan oleh manusia?

Memasuki dekade 1930-an, kendaraan roda tiga berpedal (modifikasi sepeda kargo) mulai masuk ke Nusantara sebagai alternatif transportasi umum yang lebih murah. Puncaknya terjadi pada masa pendudukan Jepang di tahun 1940-an. Banyak kuda disita untuk keperluan perang dan bahan bakar minyak sangat langka. Akibatnya, angkutan yang dikayuh tenaga manusia mengalami booming besar-besaran.

Meskipun “kuda” fisiknya sudah hilang dari jalanan dan berganti dengan pedal, kebiasaan lidah masyarakat sulit diubah. Mereka tetap memanggil angkutan umum baru ini dengan istilah taksi kuno yang sudah terlanjur familiar: Be-chhia.

Seiring berjalannya waktu, pelafalannya membaur dengan lidah lokal. Suaranya disederhanakan dan aturan pelafalan khas Indonesia terjadi: masyarakat menambahkan akhiran huruf sentak “K” di belakangnya. Hal ini memiliki pola yang sama persis dengan bagaimana orang Medan mengubah kata Hokkien Chia̍h menjadi Ciak (makan), atau Tio̍h menjadi Tiok (benar/kena).

Maka, dari perpindahan teknologi dan kebiasaan lidah tersebut, lahirlah kata yang kita kenal sekarang: Becak.

Upgrade Modern: Kuda Bermesin

Seakan evolusi dari kuda ke manusia belum cukup panjang, era modern membawa hardware upgrade yang lebih ekstrem ke jalanan Sumatera Utara: Becak Mesin (atau akrab disingkat Betor).

Becak Motor (Betor) khas Medan
Becak Motor (Betor) khas Medan, tahun 1986.

Dengan menyambungkan sepeda motor ke sespan (sidecar) penumpang, kendaraan ini berevolusi sekali lagi. Tapi, nama becak sudah terlalu mendarah daging dalam kosakata lokal sehingga masyarakat enggan mengubahnya.

Secara linguistik, frasa “Becak Mesin” adalah sebuah mashup yang sangat epik. Mesin mewakili teknologi modern, sedangkan Becak (be-chhia) adalah warisan bahasa kuno.

Jadi, saat kamu mencegat Becak Mesin di simpang jalan Kota Medan, secara harfiah kamu sedang menyewa sebuah “Kereta Kuda Bermesin”!

Ini membuktikan betapa uniknya perjalanan sebuah bahasa. Sebuah kata dari daratan Tiongkok berlayar ke Nusantara, disematkan pada kereta kuda sungguhan, beradaptasi saat kudanya diganti manusia, hingga akhirnya melaju kencang dipasangi mesin motor. Sejarah rupanya tidak hanya tersimpan di dalam museum, tapi juga bersembunyi dengan gagah di dalam kata-kata yang kita ucapkan setiap hari!