Kembali ke Artikel
24 Maret 2026 Ken Tandrian 3 mnt baca

Membongkar Asal-Usul "Huana": Rasis atau Sekadar Sejarah?

Identitas Sejarah Etimologi

Ada satu kata dalam bahasa Hokkien yang sering kali menciptakan suasana canggung jika diucapkan di tempat umum: Huan-a.

Saat ini, generasi muda Tionghoa-Indonesia secara sadar mulai menghindari kata ini karena dianggap berkonotasi rasial atau merendahkan penduduk lokal/pribumi. Tapi, apakah sejak awal kata ini diciptakan untuk mengejek? Mari kita bedah dari sudut pandang linguistik dan pergeseran generasi.

Akar Linguistik: Berawal dari Kata “Asing”

Untuk memahami kata Huan-a, kita harus melihat kacamata nenek moyang kita ratusan tahun yang lalu di Tiongkok. Dalam bahasa Hokkien, kata ini terdiri dari dua karakter: 番仔 (Hoan-á / Huan-a).

  1. 番 (Huan): Artinya “Asing”, “Luar”, atau “Dari luar perbatasan”.
  2. 仔 (A): Partikel akhiran untuk menyebut orang atau benda (seperti pada kata Gin-na / Anak kecil).

Secara harfiah, Huan-a bermakna “Orang Asing”.

Mengapa? Karena secara historis, Tiongkok menganggap wilayah mereka sebagai Zhongguo (Pusat Dunia). Siapa pun yang berada di luar Tiongkok disebut sebagai Huan (Asing).

Kata Huan tidak hanya dipakai untuk manusia. Hingga hari ini, orang Hokkien di Medan dan Sumatera masih menyebut ubi jalar dengan sebutan Huan-cu (番薯), yang terjemahan literalnya adalah “Ubi Asing”, karena ubi jalar adalah tanaman yang dibawa dari luar Tiongkok.

Ironi Sejarah dan Lahirnya Stereotip

Ketika imigran Hokkien berlayar dan menetap di Nusantara, terjadi sebuah ironi. Meskipun mereka adalah pendatang, mereka tetap menggunakan kacamata bahasa ibu mereka. Penduduk lokal Nusantara yang memiliki budaya dan bahasa berbeda, secara otomatis disebut Huan-a (Orang Asing).

Pada awalnya, kata ini 100% netral—hanya sebuah penunjuk demografis seperti orang Indonesia menyebut Bule untuk orang Barat.

Namun, zaman berubah. Kesenjangan ekonomi, politik pecah-belah (segregasi) di zaman kolonial Belanda, dan berbagai ketegangan sosial-politik di era Orde Baru membuat hubungan antar etnis sering memanas. Kata yang awalnya berarti “Orang Asing” ini perlahan menyerap semua trauma, kemarahan, dan prasangka sosial di jalanan.

Jurang Generasi: Nenek vs. Kita

Di sinilah kita melihat realitas sosiologis yang paling menarik. Stigma rasisme yang menempel pada kata Huan-a sebenarnya memiliki jurang generasi yang sangat dalam.

Bagi generasi Ah-ma (Nenek) atau orang tua kita, gesekan antar etnis mengakar lebih dalam karena mereka hidup melewati masa-masa kelam sejarah Indonesia (seperti segregasi rasial dan kerusuhan). Di generasi mereka, kata Huan-a kadang bisa terucap dengan nada negatif atau kecurigaan.

Sebaliknya, generasi Millennial dan Gen Z tumbuh di Indonesia yang jauh lebih terbuka. Kita bersekolah, bekerja, dan nongkrong dengan teman-teman lokal setiap hari. Sentimen komunal itu sudah sangat memudar.

Meskipun secara harfiah kata ini hanya berarti “orang lokal” dan tidak selalu diucapkan dengan niat merendahkan, generasi muda saat ini secara sadar menghindari penggunaan kata “Huan-a” di ruang publik. Kita sangat paham akan sejarah dan sensitivitas di balik kata tersebut. Anak muda sekarang lebih memilih menggunakan kata “Orang Indo”, atau sekadar memakai bahasa Indonesia saat merujuk pada teman-teman pribumi di tempat umum.

Kata Huan-a adalah cermin. Ia menunjukkan kepada kita bagaimana leluhur kita memandang dunia, dan bagaimana generasi kita saat ini terus belajar menavigasi antara menghargai bahasa ibu dan menjaga keharmonisan di ruang publik.

Bahasa akan selalu beradaptasi. Memahami asal-usul kata Huan-a bukan untuk membenarkan penggunaannya hari ini, melainkan untuk melihat seberapa jauh kita telah melangkah sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.