Coba ingat-ingat saat kita sedang bercanda tentang kebiasaan suka menawar harga di pasar atau sifat kiasu (takut rugi), kita sering tertawa dan bilang:
Biasa lah, memang sifat Teng-lang kayak gitu.
Bagi kita di Medan, Selatpanjang, dan kota-kota perantauan lainnya, kata Teng-lang (atau sering diucapkan Te-nang karena logat sengau) adalah kata sandi universal kita. Artinya jelas: Orang Tionghoa.
Tapi, tunggu sebentar. Jika kamu belajar bahasa Mandarin atau menonton serial TV Tiongkok, kamu pasti diajarkan bahwa “Orang Tionghoa” itu disebut Hua Ren (華人) atau Zhong Guo Ren (中國人).
Lalu, dari mana datangnya kata Teng-lang? Apa terjemahan harfiah dari kata “Teng”?
Rahasia di Balik Kata “Teng” (唐)
Karakter asli untuk kata Teng-lang adalah 唐人 (Tángrén) dalam bahasa Mandarin, atau dibaca Tn̂g-lâng dalam ejaan resmi Hokkien.
Mari kita bedah artinya:
- 唐 (Teng / Tang): Merujuk pada Dinasti Tang (618–907 Masehi).
- 人 (Lang / Ren): Orang.
Jadi, ketika kamu berkata “Wa si Teng-lang”, kamu sebenarnya tidak sedang berkata “Saya orang Tionghoa”. Secara harfiah, kamu sedang memproklamirkan: “Saya adalah Orang Dinasti Tang!”
Kenapa Harus Dinasti Tang?
Mengapa nenek moyang kita di Fujian (kampung halaman orang Hokkien) memilih Dinasti Tang sebagai identitas mereka, dan bukan Dinasti Han atau Dinasti Ming?
Dinasti Tang adalah “Zaman Keemasan” (Golden Age) dalam sejarah peradaban Tiongkok. Pada masa ini, ekonomi, budaya, dan puisi berkembang sangat pesat. Yang paling penting, pada era Dinasti Tang-lah wilayah Tiongkok Selatan (termasuk Fujian dan Guangdong) mulai benar-benar dibangun, berasimilasi, dan mencapai kejayaannya.
Karena kebanggaan yang luar biasa terhadap pencapaian era ini, orang-orang di Tiongkok Selatan (Hokkien, Kanton, Hakka) mulai menyebut diri mereka sebagai “Orang Tang” (唐人). Kebanggaan ini dibawa terus oleh nenek moyang kita saat mereka merantau mengarungi lautan menuju Asia Tenggara, termasuk ke Nusantara.
Orang Tiongkok Utara menyebut diri mereka keturunan Dinasti Han (Han Ren). Tapi para pelaut dari Selatan—nenek moyang kita—dengan bangga membawa identitas Dinasti Tang (Teng-lang) melintasi samudra.
Bukti Sejarah: “Chinatown” di Seluruh Dunia
Jika kamu masih ragu seberapa kuatnya pengaruh kata Teng-lang ini, cobalah lihat nama resmi untuk kawasan Chinatown (Pecinan) di seluruh belahan dunia.

Orang Barat menyebutnya Chinatown. Tapi jika kamu melihat plang jalan bertuliskan karakter Mandarin di gerbang Pecinan (baik di San Francisco, London, maupun Yokohama), tulisannya selalu sama: 唐人街 (Tángrénjiē).
Jika dibaca dalam bahasa Hokkien, itu berbunyi: Teng-lang-koe (Jalan Orang Tang).
Logat Medan & Riau: “Teng-lang” vs “Te-nang”
Lalu kenapa ada yang bilang Teng-lang dan ada yang bilang Te-nang? Ini murni karena fenomena asimilasi fonetik (peleburan suara) yang sangat wajar dalam bahasa lisan. Bahasa Hokkien sangat kaya akan suara sengau (nasal). Ketika suku kata Teng (yang diakhiri suara ‘ng’) bertemu dengan Lang (yang diawali suara ‘l’), pengucapan cepat sehari-hari membuatnya melebur. Huruf ‘L’ luluh menjadi ‘N’.
Itulah sebabnya lidah orang Medan atau Selatpanjang sering secara tidak sadar mengucapkannya menjadi Te-nang. Keduanya sama-sama benar, hanya beda kemalasan lidah saja!
Kesimpulan
Lain kali jika kamu menyebut dirimu sebagai Teng-lang, ingatlah bahwa kamu tidak sekadar memakai bahasa gaul atau slang pasar. Kamu sedang menyandang sebuah nama kekaisaran berusia lebih dari seribu tahun. Sebuah bukti sejarah bahwa nenek moyangmu berasal dari pesisir Selatan yang tangguh dan bangga akan warisannya.